Wabah Antraks Meradang, Wapres Instruksikan Penanganan Khusus

Bagikanberita.com – Pemerintah soroti kasus antraks yang belakangan ini diketahui telah menyerang warga di wilayah sekitar Yogyakarta. Penyakit kulit yang penyebab utamanya kuman itu telah menjadi sorotan karena warga dibuat resah oleh berita yang menyebutkan bahwa wabah antrak telah menular ke beberapa orang.

Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rahmad)

Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rahmad)

Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla menegaskan bahwa harus ada perlakuan khusus kepada terduga pasien yang telah terjangkit antraks. Perawatan khusus dianggap sangat perlu supaya penyakit tersebut tidak menjalar dan akan bisa segera ditangani dengan baik.

“Harus ada perlakuan khusus terhadap mereka para pasien ini,” ujar wapres Jusuf Kalla seperti yang dilansir Antara di Makassar, Minggu (22/1/2017).

Bacillus anthracis Adalah kuman penyebab penyakit yang menular pada hewan tersebut telah buat resah dikarenakan bisa juga menular pada manusia. Efeknya bisa menyebabkan bisul yang bernanah pada kulit yang dijangkiti.

Penyakit menular tersebut sempat menyerang warga di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta. Dari beberapa orang yang diperiksa oleh pihak dinas kesehatan, salah satu di antaranya dinyatakan positif terjangkit penyakit antraks.

“Tapi itu sudah kami tangani. Jadi saya harap publik tidak perlu resah lagi,” kata Kadin Kesehatan Kulon Progo, Bambang Haryatno, saat dihubungi CNN.

Bambang menyatakan, Dinas Kesehatan bersama tim pemantau dari pelayanan kesehatan sudah melokalisir tempat-tempat yang menjadi aduan dari warga terkait dugaan penyebaran penyakit antraks.

Langkah preventif dan juga tindakan itu perlu dilakukan karena dari pihak dinas curiga pada beberapa kasus penyakit kulit yang seperti melepuh serupa dengan gejala antraks pada Desember tahun lalu.

Kantor Berita Antara sebelumnya juga memberitakan, Dinkes Kulon Progo telah jalin koordinasi dengan pihak RSUP Sardjito Yogyakarta yang diketuai oleh Prof Fajar meninjau lokasi secara langsung, dan juga melakukan pemeriksaan terhadap 4 orang.

Dokter ahli kulit dan penyakit dalam itu pada awalnya telah mendiagnosa warga yang terkena gigitan tomcat. Setelah melakukan uji lab dan observasi, ternyata keempat orang itu positif antraks.

Lalu, pada 11 Januari tim tersebut kembali terjun ke lapangan. Dari situ didapatkan informasi, ada salah seorang warga yang sapinya sempoyongan lalu menyembelih sapi tersebut. Kemudian Dagingnya dibagikan kepada warga sekitar.

Setelah itu tim meminta warga untuk menunjukan lokasi penyembelihan sapi tersebut. Ternyata, dari tempat penyembelihan sapi tersebut, petugas temukan spora antraks.

Wabah antraks tersebut belakangan makin buat resah warga sesudah beredar kabar virus tersebut memakan lebih banyak lagi korban.

Lewat pesan singkat berantai dan juga media sosial, warga telah diresahkan oleh beredarnya surat pemberitahuan dari pihak RSUP Sardjito kepada Dinas Kesehatan Sleman yang mengabarkan bahwa seorang pasien yang berinisial HA lahir pada 18 Maret 2008 meninggal dunia disebabkan virus antraks.

Pesan berantai itu meminta agar masyarakat tidak mendekati wilayah Godean dan juga Sardjito. Dalam pesan berantai itu, warga dilarang untuk mengkonsumsi daging sapi.

Baik dari pihak Dinas Kesehatan Sleman maupun pihak RSUP Sardjito membantah isi surat tersebut.

Kadin Kesehatan Sleman Nurulhayah menegaskan bahwa isi surat tersebut ngawur. Menurutnya, HA meninggal dunia disebabkan radang selaput otak. Hasil uji lab RSUP Sardjito yang menyatakan bahwa HA positif terjangkit bacillus anthracis (antraks) masih didalami.