Minggu Ini, Kemenkeu Akan Patok Tarif Ekspor Mineral Sebesar 10 Persen

Bagikanberita.com – Kemenkeu (Kementerian Keuangan) pastikan tarif maksimal yang baru untuk bea keluar ekspor konsentrat mineral dan juga barang tambang yang besarnya 10 persen. Angka tersebut sesuai rekomendasi dari Menteri Energi dan ESDM (Sumber Daya Mineral) Ignasius Jonan.

(photo CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

(photo CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

“{Tarif bea keluar} yang 10% itu yang untuk benar raw atau belum sama sekali {melakukan pembangunan smelter}, ” ucap Suahasil Nazara selaku Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ┬áseperti yang dilansir cnnindonesia Senin (23/1).

Suahasil juga mengatakan bahwa rancangan tarif bea keluar dibuat sedemikian rupa agar memberikan insentif kepada percepatan pembangunan fasilitas pemurnian mineral dan barang tambang [smelter].

Oleh sebab itu, untuk perusahaan yang belum melakukan pembangunan smelter, atau kemajuan konstruksi nol persen, perusaha itu akan dikenakan tarif bea keluar paling tinggi.

“Semakin maju progress {pembangunan} smelter, semakin rendah tingkat bea keluar yang akan dikeluarkan,” ungkapnya.

Berkaitan dengan penetapan tarif bea keluar yang baru, Suahasil pastikan akan diterapkan dalam beberapa hari ke depan.

“Tarif bea keluar akan segera ditetapkan. Saya rasa dalam jangka waktu dekat,mungkin dalam jangka waktu beberapa hari ini, minggu ini bisa {keluar},” kata dia.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, penetapan tarif baru untuk bea keluar merupakan salah satu tindak lanjut dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2017 berkaitan Perubahan Keempat atas PP Nomir 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Mengacu pada PMK (Peraturan Menteri Keuangan) Nomor 153/PMK.011/2014 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, tarif bea keluar dikenakan biaya sebesar 7,5 % apabila pembangunan smelter antara 0%-7,5 %.

Kemudian bea keluar 5% bila pembangunan smelter mencapai 7,5% – 30%. Sementara, jika progres pembangunan smelter di atas 30% maka eksportir tidak dipungut bea keluar.